Antara Investasi Dan krisis Ekologis: Wajah Lain  Halmahera Selatan. Opini : Yasril Mardani

Admin RedMOL
0

Dok/yasril mardani Aktivis Maluku Utara 


Halmahera Selatan, Redmol.id —
Kabupaten Halmahera Selatan saat ini berada di persimpangan jalan antara kemajuan ekonomi dan ancaman kerusakan lingkungan. Di satu sisi, geliat industri tambang nikel membawa harapan besar bagi pertumbuhan daerah. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan dampak yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Aktivitas pertambangan yang masif, khususnya di wilayah Pulau Obi, telah memicu berbagai persoalan serius. Mulai dari dugaan praktik korupsi hingga kerusakan lingkungan yang semakin meluas. Baru-baru ini, mencuat dugaan kasus suap terkait pengurangan pajak perusahaan tambang yang menyebabkan potensi kerugian negara hingga puluhan miliar rupiah. 
Kasus tersebut bukan sekadar persoalan hukum, melainkan menjadi cerminan lemahnya pengawasan terhadap sektor strategis yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan daerah.
Di sisi lain, kondisi lingkungan juga menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Aktivis Maluku Utara  menilai bahwa aktivitas pertambangan menjadi faktor utama krisis ekologis di Halmahera Selatan. Penyusutan hutan yang signifikan, meningkatnya banjir, serta pencemaran sumber air menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi sumber daya belum diimbangi dengan perlindungan lingkungan yang memadai. 
Lebih dari itu, konflik sosial antara masyarakat dan perusahaan tambang juga kerap terjadi. Warga di beberapa wilayah bahkan harus menghadapi ancaman kehilangan ruang hidup, krisis air bersih, hingga tekanan akibat ekspansi industri. 

Pertanyaannya, untuk siapa sebenarnya pembangunan ini? Apakah masyarakat lokal benar-benar merasakan manfaatnya, atau justru menjadi korban dari ambisi industrialisasi yang terlalu cepat?
Pemerintah daerah dan pusat tentu memiliki peran penting dalam menjawab persoalan ini. Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu, terutama terhadap dugaan praktik korupsi di sektor tambang. Selain itu, pengawasan lingkungan perlu diperketat agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah di masa depan.
Halmahera Selatan bukan hanya tentang nikel. Ia adalah rumah bagi ribuan masyarakat, ekosistem hutan, serta sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Jika tidak ada keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan, maka yang terjadi bukanlah pembangunan, melainkan kehancuran yang perlahan.
Opini ini mengajak semua pihak untuk kembali berpikir:
apakah kita sedang membangun masa depan, atau justru mengorbankannya?

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)